Rabu, 21 Desember 2016
Pengertian dan sejarah kimia
KIMIA
Kimia (dari bahasa Arab: كيمياء, transliterasi: kimiya
= perubahan benda/zat atau bahasa Yunani: χημεία, transliterasi: khemeia) adalah ilmu yang mempelajari
mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi
dari skala atom
hingga molekul
serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi
yang ditemukan sehari-hari.[1][2] Kimia juga
mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk
menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia
modern, sifat fisik
materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya
ditentukan oleh gaya antaratom dan ikatan kimia.
Sejarah
Akar ilmu kimia dapat
dilacak hingga fenomena pembakaran. Api
merupakan kekuatan mistik yang mengubah suatu zat menjadi zat lain dan
karenanya merupakan perhatian utama umat manusia. Adalah api yang menuntun
manusia pada penemuan besi
dan gelas.
Setelah emas
ditemukan dan menjadi logam berharga, banyak orang yang tertarik menemukan
metode yang dapat mengubah zat lain menjadi emas. Hal ini menciptakan suatu protosains
yang disebut Alkimia.
Alkimia dipraktikkan oleh banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan sering
mengandung campuran filsafat, mistisisme, dan protosains.
Alkimiawan menemukan
banyak proses kimia
yang menuntun pada pengembangan kimia modern. Seiring berjalannya sejarah,
alkimiawan-alkimiawan terkemuka (terutama Abu Musa Jabir bin Hayyan dan Paracelsus)
mengembangkan alkimia menjauh dari filsafat dan mistisisme dan mengembangkan
pendekatan yang lebih sistematik dan ilmiah. Alkimiawan pertama yang dianggap
menerapkan metode ilmiah terhadap alkimia dan membedakan
kimia dan alkimia adalah Robert Boyle (1627–1691). Walaupun demikian,
kimia seperti yang kita ketahui sekarang diciptakan oleh Antoine Lavoisier
dengan hukum kekekalan massanya pada tahun 1783. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang
panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik
unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.
Penghargaan Nobel dalam Kimia yang
diciptakan pada tahun 1901 memberikan gambaran bagus mengenai penemuan kimia
selama 100 tahun terakhir. Pada bagian awal abad ke-20, sifat subatomik atom
diungkapkan dan ilmu mekanika kuantum mulai menjelaskan sifat fisik
ikatan kimia. Pada pertengahan abad ke-20, kimia telah berkembang sampai dapat
memahami dan memprediksi aspek-aspek biologi
yang melebar ke bidang biokimia.
Industri kimia
mewakili suatu aktivitas ekonomi yang penting. Pada tahun 2004, produsen bahan
kimia 50 teratas global memiliki penjualan mencapai 587 bilyun dolar AS dengan
margin keuntungan 8,1% dan pengeluaran riset dan pengembangan 2,1% dari total penjualan
Makna Fisika
Fisika
Beberapa sifat yang dipelajari dalam fisika
merupakan sifat yang ada dalam semua sistem materi yang ada, seperti hukum kekekalan energi. Sifat
semacam ini sering disebut sebagai hukum fisika. Fisika sering
disebut sebagai "ilmu paling mendasar", karena setiap ilmu alam
lainnya (biologi, kimia, geologi, dan lain-lain)
mempelajari jenis sistem materi tertentu yang mematuhi hukum fisika. Misalnya,
kimia adalah ilmu tentang molekul
dan zat kimia yang dibentuknya. Sifat suatu zat kimia ditentukan oleh sifat
molekul yang membentuknya, yang dapat dijelaskan oleh ilmu fisika seperti mekanika kuantum, termodinamika, dan elektromagnetika.
Fisika juga berkaitan erat dengan matematika. Teori fisika banyak dinyatakan dalam notasi
matematis, dan matematika yang digunakan biasanya lebih rumit daripada
matematika yang digunakan dalam bidang sains lainnya. Perbedaan antara fisika
dan matematika adalah: fisika berkaitan dengan pemerian dunia material,
sedangkan matematika berkaitan dengan pola-pola abstrak yang tak selalu
berhubungan dengan dunia material. Namun, perbedaan ini tidak selalu tampak
jelas. Ada wilayah luas penelitan yang beririsan antara fisika dan matematika,
yakni fisika matematis, yang mengembangkan struktur matematis bagi teori-teori
fisika.
Fisika teoretis dan eksperimental
Budaya penelitian fisika berbeda dengan ilmu
lainnya karena adanya pemisahan teori dan
eksperimen. Sejak abad
kedua puluh, kebanyakan fisikawan perseorangan mengkhususkan diri meneliti
dalam fisika
teoretis atau fisika eksperimental saja, dan pada abad kedua
puluh, sedikit saja yang berhasil dalam kedua bidang tersebut. Sebaliknya,
hampir semua teoris dalam biologi dan kimia juga merupakan eksperimentalis yang
sukses.
Gampangnya, teoris berusaha mengembangkan
teori yang dapat menjelaskan hasil eksperimen yang telah dicoba dan dapat
memperkirakan hasil eksperimen yang akan datang. Sementara itu, eksperimentalis
menyusun dan melaksanakan eksperimen untuk menguji perkiraan teoretis. Meskipun
teori dan eksperimen dikembangkan secara terpisah, mereka saling bergantung.
Kemajuan dalam fisika biasanya muncul ketika eksperimentalis membuat penemuan
yang tak dapat dijelaskan dari teori yang ada, sehingga mengharuskan
dirumuskannya teori-teori baru. Tanpa eksperimen, penelitian teoretis sering
berjalan ke arah yang salah; salah satu contohnya adalah teori-M, teori populer
dalam fisika energi-tinggi, karena eksperimen untuk mengujinya belum pernah
disusun.
Biologi Sel
BIOLOGI SEL
PERGERAKAN
PROTEIN
Protein disintesis oleh ribosom
di sitoplasma.
Proses tersebut juga dikenal sebagai translasi protein
atau biosintesis protein.
Beberapa jenis protein, misalnyaprotein yang akan digabungkan kepada membran sel
(protein
membran),
ditranspor ke retikulum endoplasma (RE) selama proses
sintesisnya dan kemudian diproses lebih lanjut di badan Golgi.
Dari badan Golgi, protein membran dapat bergerak ke membran plasma (membran sel),
ke kompartemen subselular lainnya, atau dapat pula disekresikan
ke luar sel. Retikulum endoplasma dapat dianggap sebagai "kompartemen
tempat sintesis protein membran", sedangkan badan Golgi dapat dianggap
sebagai "kompartemen tempat pemrosesan protein membran". Terdapat
aliran protein semi-konstan melalui kompartemen-kompartemen tersebut.
Protein-protein yang terdapat pada RE dan badan Golgi berasosiasi dengan protein-protein
lain namun tetap terdapat pada kompartemennya masing-masing. Protein-protein
lain "mengalir" melalui RE dan badan Golgi ke membran plasma. Dari
membran plasma, protein kemudian pada akhirnya diuraikan kembali di dalam
kompartemen intraselular lisosom menjadi asam amino-asam
amino penyusunnya.
Isolasi
sel
Yang
dimaksud dengan isolasi sel adalah proses pengambilan suatu partikel sel dari
tempat asalnya untuk diteliti lebih lanjut. Sel dapat diisolasi dari suspensi jaringan.
Isolasi
sel dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1. Fluorescence-Activated Cell Sorter
Prinsip metode
ini ialah menggunakan antibodi yang berikatan dengan zat fluoresen
untuk melabel sel spesifik. Suspensi sel dilewatkan pada sinar laser dan dibaca oleh
detektor. Suspensi yang mengandung sel diberi sinyal positif atau negatif
bergantung pada selnya mengandung zat fluoresen atau tidak. Suspensi kemudian
melewati aliran listrik dan dipisahkan ke tempat masing-masing sesuai
muatannya.
2.Laser
Capture Microdissection
Prinsip metode
ini menggunakan laser untuk memotong bagian tertentu dan memindahkannya ke
tempat lain, contohnya memisahkan sel tumor dari jaringannya.
Pembiakan
sel
Setelah
diisolasi, sel ditumbuhkan (diperbanyak) dengan cara in vitro
(menggunakan media) atau in vivo (melibatkan sel hidup).
Ada
2 macam biakan atau kultur, yaitu biakan primer dan biakan sekunder. Biakan
primer ialah biakan yang diambil langsung dari jaringan organisme tanpa
proliferasi sel secara in vitro. Sementara itu, biakan sekunder ialah
biakan yang dikembangbiakkan dari biakan primer, biasanya di-refresh
dalam jangka waktu tertentu.
Hibridisasi
sel
Sel
hibrid adalah gabungan dua sel berbeda yang dengan hasil akhir satu inti sel.
Tujuan dibuatnya sel hibrid adalah untuk membentuk antibodi monoklonal.
Fraksinasi
sel
Fraksinasi sel ialah pemisahan sel menjadi organel
dan molekul, biasa dilakukan dengan sentrifugasi. Sentifugasi merupakan tahap
pertama dalam fraksinasi, memisahkan organel berdasarkan ukuran dan densitasnya.
Prinsip sentrifugasi ialah bahwa untuk memperoleh organel yang besar,
diperlukan kecepatan sentrifugasi yang rendah, dan sebaliknya.
Biologi Molekuler
BIOLOGI
MOLEKULER
Biologi molekular atau biologi molekul
merupakan salah satu cabang biologi yang merujuk kepada pengkajian mengenai kehidupan
pada skala molekul.
Ini termasuk penyelidikan tentang interaksi molekul dalam benda hidup dan
kesannya, terutama tentang interaksi berbagai sistem dalam sel, termasuk interaksi DNA, RNA, dan sintesis
protein, dan bagaimana interaksi tersebut diatur. Bidang ini bertumpang
tindih dengan bidang biologi (dan kimia) lainnya, terutama genetika dan biokimia.
Para
peneliti biologi molekular menggunakan teknik-teknik khusus yang khas biologi
molekular (lihat subbab Teknik
di bagian lain artikel), namun kini semakin memadukan teknik-teknik tersebut
dengan teknik dan gagasan-gagasan dari genetika dan biokimia.
Tidak terdapat lagi garis tegas yang memisahkan disiplin-disiplin ilmu ini
seperti sebelumnya. Secara umum keterkaitan bidang-bidang tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
- Biokimia – telaah zat-zat kimia dan proses-proses vital yang berlangsung pada makhluk hidup.
- Genetika – telaah atas efek perbedaan genetik pada makhluk hidup (misalnya telaah mengenai mutan).
- Biologi molekular – telaah dalam skala molekul atas proses replikasi, transkripsi, dan translasi bahan genetik
Semakin
banyak bidang biologi lainnya yang memfokuskan diri pada molekul, baik
secara langsung mempelajari interaksi molekular dalam bidang mereka sendiri
seperti pada biologi sel dan biologi perkembangan, maupun secara tidak
langsung (misalnya dengan menggunakan teknik biologi molekular untuk
menyimpulkan ciri-ciri historis populasi atau spesies) seperti pada genetika
populasi dan filogenetika.
Langganan:
Komentar (Atom)



